SEJARAH

DOKUMEN HISTORIS
Keluarga Besar Haji Abdullah
www.abdullah.web.id


LATAR BELAKANG KELUARGA

HAJI ABDULLAH
Haji Abdullah bin Haji Abdul Madjid bin Haji Bakaruddin bin Suntan Ratu

Haji Bakaruddin berasal dari kesukuan Bungamayang Sungkai. Ia masuk dalam Marga Indor Gajah. Ayahnya telah ikut dalam peristiwa nomaden bangsa Bungamayang dari Way Komering ke Way Sungkai. Haji Bakaruddin memiliki dua orang istri. Dari istri yang pertama, lahirlah anak kelima bernama Abdul Madjid.

Sebagai anak kelima dan bungsu, sebagaimana tradisi Lampung – Abdul Madjid tidak memiliki Hak Waris keluarga. Oleh karenanya ia berusaha, dengan segala cara mencari nafkah, mencukupkan kebutuhan hidup. Dengan berdagang, berkebun bahkan menjadi tenaga bangunan. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Akhirnya Haji Abdul Madjid muncul menjadi putra Haji Bakaruddin yang paling sukses serta kaya raya. Haji Abdul Madjid memiliki tiga orang istri. Dari istri yang pertama, yang bernama Hajjah Kagungan – lahirlah anak kedua sekaligus putranya yang pertama bernama Abdullah.

HAJJAH HALIMAH
Hajjah Halimah binti Muhammad Isa bin Haji Muhammad Arsyad

Dikisahkan generasi kedua dari Pemuka Pangeran Tuha yang bertahta di Waykanan bernama Muhammad Arsyad dengan gelar Raja Sembilan. Karena dua kali gagal dalam membangun rumah tangga, ia memutuskan melakukan pengembaraan, mencari penghidupan yang lebih baik. Berbeda dengan pakem pengembara air yang mengikuti arah arus, ia malah dengan sengaja melawannya. Hingga ia berhenti disuatu tempat, dimana ia kemudian mendirikan pemukiman dan membentuk kampung. Tempat yang ia beri nama Sunsang.

Ditanah itulah ia berhasil membina rumah tangga yang baru dan memiliki banyak keturunan, anaknya yang paling tertua bernama Muhammad Isa. Dalam sejarahnya, Muhammad Isa kemudian menikahi Rohana binti Haji Mashur. Putri tertua dari punyimbang kesukuan Semenguk – yang memiliki tali darah dengan pejuang laut Bugis Sulawesi Selatan. Dari pernikahannya tersebut lahirlah anak dan putri pertama bernama Halimah.

RUMAH TANGGA

Sebagai anak orang kaya, Abdullah selalu menonjol dalam pergaulan. Belum saja menikah, ia sudah mampu berangkat Haji ke Makkah. Belum lagi memang Bungamayang Sungkai mengalami revolusi kebudayaan yang tak pernah terjadi dikesukuan lain di Lampung. Orang kaya dan sukses atau pejabat pemerintahan memiliki kedudukan lebih tinggi dari punyimbangnya sendiri dalam tata krama pergaulan.

Abdullah merupakan juara umum saat mengikuti pendidikan disekolah negri pertama di marga Bungamayang. Kejeniusan itu menyebabkan ia direkrut oleh Belanda, menjadi juru tulis marga. Kedudukan juru tulis dizaman itu, hanya berbanding satu tingkat dibawah Pesirah. Sehingga dengan mudah ia bergaul dengan pejabat Belanda, para Pesirah, para Ningrat, para Tuan dan Elit dizaman itu. Dan kemudian ia bertemu dengan Halimah. Putri berdarah biru dari Way Kanan.

Haji Abdullah diperkirakan menikahi Hajjah Halimah antara tahun 1930-1931. Mereka kemudian menetap di Negara Tulang Bawang dengan berkecukupan dan sangat mapan. Mereka kadang terpaksa masuk hutan untuk pindah ke Ketapang, apabila terjadi bentrokan bersenjata antara pejuang Republik, tentara Belanda maupun tentara Jepang. Paska kemerdekaan, Haji Abdullah tercatat sebagai Ketua Partai Masyumi di Bungamayang.

NOMADEN BANDAR LAMPUNG

Jauh setelah kemerdekaan, tepatnya 1952 – Haji Abdullah memutuskan membawa keluarganya ke Teluk Betung – Bandar Lampung. Karena pergaulan yang luas, bagian dari Revolusi Kemerdekaan, membuat ia sangat menyadari betapa pentingnya nilai pendidikan bagi anak-anaknya. Ia bahkan rela meninggalkan rumahnya yang mapan dan kampung halamannya yang damai, demi keyakinannya tentang masa depan.

Di Bandar Lampung, keluarga Haji Abdullah berpindah-pindah dari rumah kontrakan yang satu ke rumah kontrakan yang lain. Tercatat, ia kemudian menjadi Kepala Tata Usaha dari Sekolah Teknik setingkat SMP, kemudian menjadi Kepala Tata Usaha dari Sekolah Guru Atas. Istrinya, Hajjah Halimah – selain merupakan Ibu Rumah Tangga – juga dikenal sebagai Cengkau. Semacam pedagang keliling, yang berdagang berbagai barang, dari rumah kerumah di Bandar Lampung. Enam tahun dari nomaden itu mereka membeli rumah di Pahoman.

NOMADEN JAKARTA

Pada tahun 1958, putra tertuanya Muhammad Ghalib Abdullah berangkat ke Jakarta, untuk melanjutkan sekolah di Universitas Nasional. Keberangkatan itu merupakan cikal bakal pindahnya seluruh keluarga Haji Abdullah ke Jakarta. Sebelum ia pensiun 1967, bersama Hajjah Halimah – ia kemudian menyusul anak-anaknya pindah ke ibukota. Semenjak itu pula, keluarga Abdullah menjadi keluarga besar Lampung yang merantau, berkembang dan beranak pinak di Jakarta Raya.

FOOTNOTES

KESUKUAN BUNGAMAYANG SUNGKAI
Banyak orang menyebutnya suku Sungkai Bungamayang, tetapi seharusnya adalah Bungamayang Sungkai. Karena Bungamayang adalah nama kesukuan, sementara Sungkai adalah nama sebuah tempat yaitu Way Sungkai – Lampung Utara. Selain di Sungkai, terdapat pula kesukuan Bungamayang di Ogan Komering Ulu. Kata Bungamayang sendiri berarti Bunga Kelapa

MARGA BUAY INDOR GAJAH
Dalam peristiwa nomaden ke Way Sungkai, para pengembara terdiri dari beberapa kapal dan pemimpin keluarga. Salah satunya adalah Indor Gajah (Segajah) yang kemudian membentuk kemargaan. Ketika mereka berlabuh, mereka bermukim dan mendirikan kampung dengan nama Negara Tulang Bawang. Sebuah nama yang diambil dari kampung tempat mereka berasal, yang hingga saat ini masih berdiri di Ogan Komering Ulu. Ada pertanyaan besar yang hingga saat ini belum terjawab. Apakah hubungannya Negara Tulang Bawang di Komering dan Sungkai, dengan catatan tentang Kerajaan Besar dan Nagari To Lang Po Hwang yang ditulis dalam kitab catatan pengembara berjudul Tai Ping Huan Yu Chi dari abad kelima masehi?.

NOMADEN WAY SUNGKAI
Para sejarawan percaya peristiwa nomaden masyarakat Bungamayang dari Sungai Way Komering di Sumatera Selatan ke Way Sungkai di Lampung Utara terjadi pada tahun 1800. Banyak teori mengenai alasan perpindahan itu, salah satunya adalah bencana alam. Sungai Way Komering sering meluap dan mengganggu kehidupan warga didekatnya. Sebagian besar warga didekat sungai, kemudian memutuskan melakukan nomaden mencari tanah baru. Mengikuti arus air, hingga kemudian mereka berlabuh di Way Sungkai. Tanah di Way Sungkai sebenarnya lebih dahulu dikuasai kesukuan Abung. Namun berdasarkan kesepakatan bersama, antara tahun 1818-1834 masyarakat Abung menyerahkannya kepada masyarakat Bungamayang. Bahkan mengakui mereka sebagai bagian dari masyarakat pepadun.

TRADISI WARIS MASYARAKAT LAMPUNG
Dalam tradisi masyarakat Lampung hak waris hanya diberikan kepada anak lelaki tertua saja. Berbeda dengan hak waris didalam agama Islam, anak-anak lainnya tidak memiliki hak waris. Tradisi ini sebenarnya dianggap baik oleh para budayawan. Mereka mencontoh Masyarakat Jepang yang juga memiliki tradisi ini. Sehingga orang Jepang terbentuk menjadi pekerja keras dan militan. Sayangnya, orang Lampung tidak terbentuk sebagaimana masyarakat Jepang.

PEMUKA PAMERAN TUHA
Way Kanan terdiri atas lima kumpulan marga besar. Salah satu kumpulan marga itu adalah Marga Pemuka. Marga Pemuka terbagi atas empat kebuayan dan salah satunya adalah Marga Buay Pemuka Pangeran Tuha. Marga ini meliputi daerah Pakuan Ratu, Tanjung Ratu, Gedung Menong, Kota Bumi Way Kanan, Sunsang dan Kotabumi Baru.

SUNSANG
Sunsang pada saat ini tercatat sebagai salah satu kampung, yang masuk dalam kecamatan Negeri Agung kabupaten Way Kanan. Tempat itu ditemukan dan dibangun oleh Haji Muhammad Arsyad (Kakek dari Atubeng Hajjah Halimah). Konon nama SUNSANG diambil karena saat ia menemukan daerah itu dengan cara yang berlawanan, yaitu menyusuri sungai melawan arus air. SUNSANG adalah kata bahasa asli Lampung yang kemudian digunakan dalam perbendaharaan bahasa Indonesia yang berarti terbalik.

SEMENGUK
Dalam sejarah Lampung terdapat dua catatan legenda yang menggunakan kata yang sama yaitu Semenguk. Semenguk yang pertama adalah salah satu pihak yang ikut terlibat dalam penyerangan bangsa Tumi dikaki Gunung Pesagi. Semenguk yang kedua adalah sekelompok pasukan penakluk dari Bugis yang bermaksud menaklukan Sumatera namun malah bermukim dan beranak pinak di Lampung dan tak kembali ke Sulawesi Selatan. Tidak tahu apakah keduanya merujuk pada satu figur atau kelompok. Yang pasti salah satu Suku Marga besar di Waykanan adalah bernama Semenguk. Yang meliputi kampung Negeri Batin, Negeri baru, Bumi Ratu, Gedung Batin, Bandar Dalam, Negeri Agung, Pulau Batu dan Penengahan.


Dokumen disusun oleh
YORDANSYAH DJON GOMARATHONDA
bin MUHAMMAD DJONHARRO BINSON INDRAPRASTA bin
ABDULLAH bin ABDDUL MADJID bin BAKARUDDIN bin SUNTAN RATU
bergelar TUAN TUNAS PEMUKA buway INDOR GAJAH
asal NEGARA TULANGBAWANG, BUNGAMAYANG SUNGKAI